SIMALUNGUN – PERDA.ID | Kondisi infrastruktur Jalan Lintas Perdagangan – Siantar Nagori Marihat Bandar, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, saat ini sudah melampaui batas kewajaran. Jalan provinsi yang merupakan jalur vital Perdagangan – Pematangsiantar, tepatnya di kawasan Batu Enam, kini hancur lebur hingga menyerupai “tempat mandi kerbau”. Kondisi ini memicu kemarahan warga yang merasa diabaikan oleh pemerintah.
Pantauan di lokasi menunjukkan lubang-lubang besar yang menganga tertutup genangan air keruh setinggi betis orang dewasa. Meski jalur ini merupakan akses tunggal bagi pengendara dari arah Perdagangan menuju Kota Siantar, para pelintas kini harus bertaruh nyawa dan merusak kendaraan mereka hanya untuk bisa lewat.
Kekecewaan warga Marihat Bandar bukan tanpa alasan. Kerusakan parah ini dikabarkan sudah berlangsung selama hampir empat bulan tanpa ada tindakan nyata dari UPT Dinas PUTR Provinsi Sumatera Utara wilayah Siantar-Simalungun.
BACA JUGA : Kota Perdagangan Darurat, Forum Pemuda Simalungun: “Jangan Biarkan Berubah Menjadi Kota Kehancuran”
“Sepertinya Pemprov Sumut sengaja membiarkan jalan tersebut seperti ini. Apakah rakyat sengaja dipaksa harus lewat jalan tol yang kalau dari Perdagangan harus memutar jauh, sementara jalan umum dibiarkan hancur maut?” ujar salah satu warga setempat dengan nada penuh tanya.
Ketidakpuasan warga semakin memuncak ketika membandingkan kewajiban membayar pajak dengan hak mendapatkan fasilitas jalan yang layak.
“Seluruh warga dipaksa bayar pajak; mulai dari PBB, pajak restoran, hingga pajak jual beli tanah. Namun apa timbal balik yang kita terima? Tidak ada! Seharusnya pajak-pajak tersebut dikembalikan lewat perbaikan jalan. Faktanya, jalan kami dibiarkan jadi kubangan,” tegas warga lainnya yang merasa muak dengan kondisi tersebut.
Frustrasi karena tak kunjung diperbaiki, warga mengancam akan mengambil langkah ekstrem jika dalam satu minggu ke depan tidak ada pergerakan dari Dinas PU Provinsi. Warga berencana akan mendirikan portal penutup jalan dan mencangkul lubang-lubang tersebut lebih dalam lagi agar jalur tersebut ditutup total.
“Daripada dibiarkan tapi terus memakan korban dan merusak kendaraan, lebih baik ditutup sekalian kalau pemerintah memang tidak sanggup kerja,” ancam warga.
Kini, harapan warga tertumpu pada respons cepat dari Bobby Nasution. Masyarakat mendesak agar tokoh pemimpin Sumatera Utara tersebut segera menginstruksikan Dinas PUPR Provinsi untuk menurunkan alat berat ke lokasi Batu Enam – Marihat Bandar sebelum jatuh lebih banyak korban jiwa.
Pemerhati kebijakan publik, Ismoyo Adnan, turut memberikan tanggapan keras atas kondisi ini.
“Ini adalah penghinaan terhadap hak publik. Jika Pak Bobby Nasution dan PU Provinsi tetap tutup mata, maka mereka sedang mempertaruhkan ekonomi dan keselamatan rakyat Simalungun. Pemerintah jangan baru sibuk bekerja setelah rakyat turun ke jalan,” tegas Ismoyo Adnan.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kehadiran pihak dinas terkait di lokasi, sementara air terus menggenang dan lubang di Jalan Lintas Perdagangan-Siantar semakin bertambah dalam.






